Sidoarjo Perkuat Edukasi HIV bagi Pelajar untuk Cegah Kasus Baru

SIDOARJO – Ratusan pelajar SMA dan SMK di Kabupaten Sidoarjo mengikuti edukasi pencegahan HIV melalui kegiatan Sidoarjo Youth Safeguard 2026 di Auditorium KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Rabu (5/8/2026). Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pencegahan HIV sejak usia sekolah agar kasus baru dapat ditekan sekaligus mengurangi stigma terhadap Orang dengan HIV (ODHIV).

Kegiatan tersebut merupakan kolaborasi antara Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA Unair), dan Umsida. Berbeda dengan pendekatan yang hanya berfokus pada skrining dan deteksi dini, edukasi kali ini menitikberatkan pada pembentukan pengetahuan dan karakter remaja agar mampu menghindari perilaku berisiko.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina mengatakan edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan pengenalan diri penting diberikan sejak remaja. Menurutnya, bekal pengetahuan yang benar akan membantu pelajar menjaga diri sekaligus menghilangkan stigma terhadap ODHIV.

“Edukasi tentang seksual dan pengenalan diri para pelajar merupakan bentuk upaya melindungi generasi muda. Dengan bekal pengetahuan yang tepat, mereka diharapkan mampu menjaga diri dari perilaku berisiko. Sekaligus teredukasi untuk tidak memberikan stigma kepada Orang dengan HIV (ODHIV),” ujarnya.

Dinas Kesehatan mencatat, sejak 2001 hingga Juni 2026 terdapat 60 kasus HIV pada kelompok usia 11 hingga 17 tahun di Kabupaten Sidoarjo. Dari jumlah tersebut, tujuh orang meninggal dunia, sedangkan 53 lainnya masih hidup dengan HIV. Data itu menjadi salah satu alasan pemerintah daerah memperkuat edukasi kepada kelompok usia sekolah.

Namun, dr. Lakhsmie menegaskan data tersebut tidak dimaksudkan untuk menimbulkan ketakutan di masyarakat. Justru, meningkatnya temuan kasus menunjukkan semakin luasnya jangkauan layanan skrining dan keberhasilan deteksi dini sehingga penderita dapat segera memperoleh pengobatan.

Ia juga menjelaskan bahwa kelompok usia di atas 24 tahun masih menjadi penyumbang terbesar kasus HIV yang berkaitan dengan perilaku berisiko. Sementara pada anak usia 0 hingga 10 tahun, penularan umumnya terjadi dari ibu kepada anak. Karena itu, upaya pencegahan dilakukan melalui berbagai tahapan sesuai siklus hidup, termasuk pemeriksaan ibu hamil melalui program triple eliminasi HIV, sifilis, dan hepatitis B, serta pemeriksaan dini pada bayi.

Dalam kesempatan tersebut, peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai fakta ilmiah tentang HIV. Dinas Kesehatan menegaskan HIV tidak menular melalui berjabat tangan, berpelukan, belajar bersama, berbagi makanan, menggunakan toilet yang sama, maupun gigitan nyamuk. Penularan hanya dapat terjadi melalui hubungan seksual berisiko tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik bergantian, transfusi darah yang tidak aman, serta dari ibu kepada bayi apabila tidak mendapat penanganan yang tepat selama kehamilan, persalinan, maupun menyusui.

Selain edukasi kesehatan, pelajar juga dibekali penguatan karakter. Psikolog Pendidikan dan Keluarga Widji Lestari menilai rasa percaya diri dan keberanian mengatakan “tidak” terhadap ajakan yang mengarah pada perilaku berisiko merupakan benteng penting bagi remaja. Karakter tersebut perlu dibangun melalui peran keluarga, sekolah, dan lingkungan agar generasi muda mampu mengambil keputusan yang bertanggung jawab.