YJI Sidoarjo Ingatkan Risiko Penyakit Jantung pada Usia Muda

SIDOARJO — Penyakit jantung tidak hanya menjadi ancaman bagi kelompok usia lanjut. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter pada kelompok usia 25–34 tahun sebesar 0,15 persen. Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Cabang Sidoarjo mengajak masyarakat mulai menerapkan pola hidup sehat untuk mengurangi risiko penyakit tersebut.

Ketua YJI Cabang Sidoarjo, dr Sriatun Subandi, menyampaikan ajakan itu dalam seminar peringatan Hari Jantung Sedunia bertema “45 Tahun Menjaga Masa Depan Negeri” di Pendopo Delta Wibawa, Kamis (22/10/2026).

Menurut Sriatun, pencegahan penyakit jantung perlu dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Beberapa faktor risiko berkaitan dengan perilaku, antara lain kurangnya aktivitas fisik, rendahnya konsumsi buah dan sayur, kebiasaan merokok, serta konsumsi gula, garam, dan lemak secara berlebihan.

Karena itu, masyarakat didorong untuk lebih aktif bergerak dan memperhatikan asupan makanan. Upaya pencegahan juga perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui edukasi kesehatan, baik kepada orang dewasa maupun generasi muda.

“Karena itu, upaya promotif dan preventif perlu terus dilakukan. Masyarakat harus semakin sadar pentingnya menjaga kesehatan jantung melalui pola hidup sehat. Termasuk rutin bergerak dan memperhatikan asupan makanan sehari-hari,” ujar Sriatun.

Besarnya persoalan penyakit kardiovaskular juga tercermin dari pembiayaan layanan kesehatan. Data Kementerian Kesehatan RI yang dikutip dalam siaran pers Pemerintah Kabupaten Sidoarjo mencatat pembiayaan penyakit jantung dan stroke mencapai Rp22,8 triliun dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada 2023.

Sementara itu, SKI 2023 mencatat prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk semua umur sebesar 0,85 persen. Pada kelompok usia 25–34 tahun, angkanya tercatat 0,15 persen.

Data tersebut memperlihatkan bahwa penyakit jantung juga menjadi perhatian pada kelompok usia produktif. Meski demikian, angka prevalensi berdasarkan diagnosis dokter tersebut tidak menggambarkan seluruh kasus yang belum terdiagnosis.

Sriatun menekankan bahwa menjaga kesehatan jantung membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari tenaga kesehatan, keluarga, hingga lingkungan masyarakat. Kesadaran untuk mencegah penyakit perlu dibangun melalui kebiasaan sehat yang diterapkan secara konsisten.

Peringatan Hari Jantung Sedunia di Sidoarjo juga diisi dengan pemeriksaan kesehatan jantung, penyerahan penghargaan lomba senam jantung sehat, serta lomba senam beregu antarkelompok Klub Jantung Sehat (KJS).

Selain itu, panitia memberikan paket sembako kepada penderita penyakit jantung. Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta yang terdiri atas masyarakat umum, komunitas olahraga, kepala puskesmas, dan organisasi terkait.

Rangkaian kegiatan itu ditujukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan jantung sekaligus mendorong deteksi dini.

Bagi masyarakat, pencegahan dapat dimulai dengan memperbaiki kebiasaan harian, seperti rutin melakukan aktivitas fisik, mengonsumsi buah dan sayur, serta membatasi asupan gula, garam, dan lemak. YJI Sidoarjo berharap kesadaran tersebut tumbuh di berbagai kelompok usia agar upaya menjaga kesehatan jantung tidak hanya dilakukan ketika gejala penyakit muncul.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *