SIDOARJO – Sebanyak 76 bank sampah di Kabupaten Sidoarjo didorong kembali aktif melalui sarasehan yang digelar Paguyuban Bank Sampah “Srikandi Lingkungan” di Perumahan Taman Surya Kencana, Desa Grogol, Kecamatan Tulangan, Minggu (12/7/2026). Penguatan komunitas tersebut diharapkan mampu meningkatkan pengelolaan sampah dari sumbernya sehingga volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir dapat berkurang.
Sarasehan yang diikuti sekitar 100 penggiat lingkungan dari berbagai kecamatan itu digelar dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional 2026. Kegiatan tersebut menjadi forum berbagi pengalaman sekaligus menyusun langkah agar bank sampah yang mulai tidak aktif dapat kembali berjalan.
Ketua Paguyuban Bank Sampah “Srikandi Lingkungan” Kabupaten Sidoarjo, Mailiya Hurmatud Diniyah, mengatakan sebagian bank sampah mengalami penurunan aktivitas dalam beberapa waktu terakhir. Karena itu, pendampingan rutin diperlukan agar pengelolaan sampah berbasis masyarakat tetap berlanjut.
“Lewat sarasehan ini kita ingin kembali mengaktifkan lagi bank sampah yang ada karena beberapa bank sampah itu sudah lesu,” ujarnya.
Menurut Mailiya, hingga saat ini terdapat 76 bank sampah yang tergabung dalam paguyuban tersebut. Sementara jumlah pengurus dan penggiat lingkungan yang terhubung dalam jaringan komunitas mencapai hampir 200 orang, dengan sekitar 100 orang mengikuti kegiatan sarasehan.
Ia berharap pemerintah daerah, khususnya Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan, ikut memperkuat pendampingan terhadap bank sampah agar pengelolaan sampah di tingkat desa dan lingkungan permukiman semakin berkembang.
Dalam kegiatan tersebut, Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana mengapresiasi peran komunitas yang selama ini membantu mengurangi persoalan sampah. Menurutnya, penyelesaian masalah sampah tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada pemerintah tanpa keterlibatan masyarakat.
“Kebersihan dapat dimulai dari diri kita sendiri. Kalau diri kita peduli dengan lingkungan mulai dari rumah kita sendiri, keluarga kita, insyaallah nanti akan merambat dengan sendirinya kepedulian lingkungan itu,” katanya.
Ia juga mendorong agar setiap Dasa Wisma memiliki tempat pemilahan sampah berdasarkan jenisnya. Dengan pemilahan sejak dari rumah, sampah yang masih memiliki nilai ekonomi dapat dimanfaatkan kembali melalui bank sampah maupun industri kreatif.
Menurutnya, sampah plastik menjadi salah satu jenis sampah yang perlu mendapat perhatian karena sulit terurai. Namun apabila dikelola dengan baik, plastik bekas dapat diolah menjadi berbagai produk kerajinan yang memiliki nilai jual.
Melalui penguatan bank sampah dan keterlibatan masyarakat, pengelolaan sampah diharapkan tidak lagi hanya berfokus pada pengangkutan ke tempat pembuangan akhir. Sebaliknya, pengurangan sampah dilakukan sejak dari rumah melalui pemilahan, daur ulang, dan pemanfaatan kembali sehingga beban lingkungan dapat berkurang secara bertahap.
