SIDOARJO — Jumlah anak putus sekolah di Kabupaten Sidoarjo turun dari 7.430 anak pada 2024 menjadi 4.305 anak pada 2025. Persoalan pendidikan tersebut menjadi salah satu isu yang perlu mendapat perhatian Dewan Pendidikan Kabupaten Sidoarjo periode 2026–2031, yang dikukuhkan di Pendopo Delta Wibawa, Rabu (21/10/2026).
Sebanyak 11 orang bergabung dalam Dewan Pendidikan Sidoarjo untuk periode lima tahun ke depan. Lembaga ini diharapkan menjadi mitra pemerintah daerah dalam memberikan masukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, termasuk menghadapi persoalan pemerataan sekolah, kompetensi guru, dan anak putus sekolah.
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Kabupaten Sidoarjo Mohammad Ainur Rahman mengatakan, tantangan pendidikan semakin kompleks di tengah perkembangan teknologi digital dan transformasi global. Menurut dia, peningkatan kualitas pendidikan tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan akademik siswa, tetapi juga perlu memperhatikan pembentukan karakter, moral, kearifan lokal, serta keterampilan yang dibutuhkan pada masa depan.
Dalam sambutannya, Ainur meminta Dewan Pendidikan membangun komunikasi dengan Dinas Pendidikan dan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Ia juga mengingatkan agar koordinasi lintas instansi tidak terhambat oleh kepentingan sektoral masing-masing.
Selain koordinasi, Dewan Pendidikan diminta menyerap berbagai persoalan pendidikan yang terjadi di masyarakat. Pemerataan akses sekolah, kompetensi guru, dan angka putus sekolah menjadi sejumlah isu yang disebut perlu mendapat perhatian.
Ainur berharap Dewan Pendidikan dapat memberikan masukan kepada pemerintah daerah mengenai program inovatif untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Sidoarjo. Ia juga menekankan perlunya upaya memperkuat generasi muda agar mampu menghadapi dampak perkembangan teknologi.
Data dalam keterangan Pemerintah Kabupaten Sidoarjo menunjukkan, daerah ini memiliki 585 sekolah dasar (SD), negeri maupun swasta, dengan 8.531 guru dan 141.578 siswa. Sementara itu, jumlah sekolah menengah pertama (SMP) mencapai 192 sekolah, dengan 4.203 guru dan 76.300 siswa.
Penurunan jumlah anak putus sekolah dari 7.430 pada 2024 menjadi 4.305 pada 2025 menunjukkan adanya perubahan pada indikator tersebut. Namun, data yang disampaikan dalam keterangan pemerintah itu belum merinci penyebab penurunan, sebaran wilayah, kelompok usia, maupun faktor yang membuat ribuan anak masih tercatat putus sekolah pada 2025.
Informasi tersebut menjadi konteks bagi Dewan Pendidikan dalam menjalankan perannya sebagai mitra pemerintah daerah. Pemetaan persoalan secara lebih terperinci diperlukan untuk memahami hambatan yang dihadapi anak-anak dalam mengakses dan menyelesaikan pendidikan.
Dewan Pendidikan Kabupaten Sidoarjo periode 2026–2031 dipimpin H. Nanang Wahyono, S.T., M.Pd. sebagai ketua, H. Ali Mashuri, M.Pd.I. sebagai sekretaris, dan Dr. Niswatin, S.Pd., M.Pd. sebagai bendahara.
Delapan anggota lainnya adalah Dr. Joko Siswanto, M.Pd.I.; Drs. H. Misbahuddin, M.M.; Drs. Qodim, M.Si.; Dr. Anita Puji Astutik, S.Ag., M.Pd.I.; Budi Rahayu Sri Wulan, S.Pd., M.Pd.; Dr. Fajar Rahmat Dwi Miarsa, S.H., M.H.; Dr. Ir. Pancanto Kuat Prabowo, M.M.T.; serta H. Anas Syamsul Arif, M.Pd.
Dengan masa tugas hingga 2031, Dewan Pendidikan diharapkan dapat menyampaikan masukan yang berangkat dari persoalan nyata di lapangan. Data mengenai akses sekolah, kualitas tenaga pendidik, dan anak putus sekolah menjadi bagian penting untuk melihat kebutuhan pendidikan Sidoarjo secara lebih menyeluruh.
